pendekatan – pendekatan dalam konseling

28 Apr

A. PENDEKATAN BEHAVIORAL
Pendekatan behavioral atau perilaku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori belajar. Konseling model ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip – prinsip belajar pada pengubahan perilaku kearah cita – cita yang adaptif. Pendekatan behavioral tidak menguraikan asumsi – asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan – kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya.
Dalam kegiatan konseling behavioral tidak ada suatu teknik konseling pun yang selalau harus digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dieliminasi dan diganti dengan teknik yang baru.
Berikut ini adalah beberapa teknik konseling behavioral :

1. Desensitisasi sistematik (systematic desensitization ).
Teknik desensitisasi sistematik bermaksud mengajar klien untuk memberikan respon yang tidak knsisten dengan kecemasan yang dialami klien. Teknik ini tak dapat berjalan tanpa teknik relaksasi.
Di dalam konseling itu klien diajar untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman – pengalaman yang mencemaskan, menggusarkan atau mengecewakan.
Situasi yang diberikan disusun secara sistematik dari yang kurang mencemaskan hingga yang paling mencemaskan
2. Assertive Training
Dalam assertive training konselor berusaha meberikan keberanian kepada klien dalam mengatasi kesulitan tehadap orang lain. Pelaksanaan teknik ini adalah ialah dengan role playing.
3. Aversion therapy
Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negative dan memperkuat perilaku psitif.
4. Home Work
Yaitu suatu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu.

B. PENDEKATAN PSIKOANALITIK
Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dan tiga system id, eg, dan superego. Id adalah system kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bersifat tidak logis, amoral, dan di dorong oleh satu kepentingan : memuaskan kebutuhan – kebutuhan naluriah sesuai dengan asas kesenangan. Ego adalah tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan implus –implus buta dari id. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk , benar atau salah.
Ada lima teknik dasar dari konseling psikoanalisis yaitu :
1. Asosiasi bebas
Yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atau menikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari – hari sekarang ini, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.
2. Interpretasi
Adalah teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan, dan bahkan mengaajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasi dalam mimpi , asosiasi bebas, resistensi, dan transferensi klien.
3. Analisis mimpi
Yaitu suatu teknik untuk membuka hal –hal yang tak disadari dan member kesempatan klien untuk menilik masalah – masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena diwaktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesakpun muncul ke permukaan.
4. Analisis Resistensi
Analis resistensi ditunjukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan – alasan terjadinya resistensinya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi. Penafsiran analisis atas resistensi ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan – alasan yang ada di balik resistensi sehingga dia bisa menanganinya.
5. Analisis Tansferensi
Analisis tranferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi – fiksasi dan deprivasi – deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pegaruh masa lampau terhadap kehidupannya sekarang.

C. PENDEKATAN EKSISTENSIAL HUMANISTIK
Psikologi eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih –alih suatu system teknik – teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Oleh karena itu , pendekatan eksistensial – humanistic bukan suatu aliran terapi, bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik.
Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial humanistic tidak memiliki teknik – teknik yang ditentukan secara ketat. Teknik konseling yang dikembangkan oleh konselor eksistensial humanistic hanya sedikit. Konselor eksistensial – humanistic bisa meminjam teknik – teknik dari model – model lain. Dalam konseling ini, diagnosis, pengetesan, dan pengukuran – pengukuran eksternal tidak dipandang penting. Dengan demikian , konseling model ini bisa menjadi sangat konfrontatif.
Untuk contoh mengenai bagaimana seorang terapis yang berorientasi eksistensial bekerja dalam pertemuan terapi, bisa ditunjuk surat klien yang telah diungkapkan di muka.
Berikut ini adalah dalil-dalil yang mendasari praktek terapi eksistensial-humanistik yang dikembangkan dari suatu survei atas karya-karya para penulis psikologi eksistensial, berasal dari Frankl (1959, 1963), May (1953, 1958, 1961), Maslow (1968), Jourard (1971), dan Bugental (1965), mempresentasikan sejumlah tema penting yang merinci praktek-praktek terapi.
Dalil 1: kesadaran diri
Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang maka ia semakin hidup sebagai pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia.
Dalil 2: kebebasan dan tanggung jawab
Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk memilih diantara alternatif-alternatif. Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya.
Dalil 3: keterpusatan dan kebutuhan akan orang lain
Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan dan keterpusatanny, tapi pada saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk berhubungan dengan orang lain serta dengan alam.
• Keberanian untuk ada
• Pengalaman kesendirian
• Pengalaman keberhubungan
Dalil 4 Pencarian Makna
Salah satu karakteristik yang khas pada manusia adalah perjuangannya untuk merasakan arti dan maksud hidup.
• Masalah penyisihan nilai-nilai lama
• Belajar untuk menemukan makna dalam hidup
• Pandangan eksistensial tentang psikopatologi

Dalil 5 kecemasan sebagai syarat hidup
Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan suatu patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk memlilih.
• Kecemasan sebagai sumber pertumbuhan
• Pelarian dari kecemasan
• Implikasi-implikasi konseling bagi kecemasan
Dalil 6 : kesadaran atas kematian dan Non-Ada
Kesadaran atas kematian adalah kondisi manusia yang mendasar yang memberikan makna kepada hidup. Para eksistensialis mengungkapkan bahwa hidup memiliki makna karena memiliki pembatasan waktu.
Dalil 7 : perjuangan untuk aktualisasi diri
Kecenderungan untuk menjadi apa saja yang mereka mampu, memiliki kecenderunagan ke arah pengembangan keunikan dan ketunggalan, penemuan identitas pribadi, dan perjuangan demi aktualisasi potensi-potensinya secara penuh.

D. PENDEKATAN CLIENT – CENTERED
Terapi model ini dikembangkan pertama kali oleh Carel Rogers dengan sebutan Client Centered Therapy (Meador dan Rogers, 1973 ) yaitu suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara dengan konseli agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self ( diri konseli yang ideal ) dengan actual self ( diri konseli sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Pendekatan client centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara – cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien , sebagai orang yang paling mengetahui dirinya adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya.
Konselor yang memilih terapi model ini memang menggunakan teknik – teknik, tetapi menitikberatkan pada sikap – sikap konselor. Teknik – teknik dasar mencakup mendengarkan aktif, merefleksikan perasaan – perasaan; menjelaskan, dan “hadir” bagi konseli. Dukungan dan pemberian keyakinan bisa digunakan jika layak. Pendekatan ini tidak memasukan pengetesan diagnostic, penafsiran, kasus sejarah, dan bertanya.
Implementasi teknik konseling tersebut didasari atas paham filsafat serta sikap konselor yang melatarbelakangi penggunaan model terapi ini. Karena itu penggunaan teknik seperti petranyaan, dorongan, interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi yang rendah.
Adapun beberapa tahap dalam konseling terapi client centered antara lain :
• Klien dating kepada konselor atas kemauan sendiri. Apabila klien dating atas suruhan orang lain , maka konselor harus mampu menciptakan situasi yang sangat bebas dan permisif dengan tujuan agar klien memilih apakah ia akan terus meminta bantuan atau akan membatalkannya.
• Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien, unuk itu konselor menyadarkan klien
• Konselor memberanikan klien agar ia mampu mengemukakan perasaannya. Konselor harus bersikap ramah, bersahabat, dan menerima klien sebagaimana adanya
• Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya
• Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya
• Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil
• Klien merealisasikan pilihannya itu.

E. PENDEKATAN GESTALT
Terapi ini dikembangkan oleh Fredrick S. Pearl (1894-1970) yang didasari oleh empat aliran yakni psikoanalisis, fenomenologis, dan eksistensialisme serta psikologi gestalt. Menurut Pearls individu itu aktif secara keseluruhan. Individu bukanlah jumlah dari bagian – bagian atau organ – organ semata.
Tujuan terapi Gestalt bukanlah penyesuaian terhadap masyarakan. Pearls mengingatkan bahwa kepribadian dasar pada zaman kita adalah neurotic sebab, menurut keyakinannya, kita hidup dimasyarakat yang tidak sehat. Kita bisa memilih menjadi bagian dari ketidaksehatan kolektif dan atau menghadapi resiko menjadi sehat. Tujuan terapi selanjutnya adalah membantu klien agar menemukan pusat dirinya.
Sasaran utama terapi gestalt adalah pencapaian kesadaran. Dengan kesadaran, klien memiliki kesanggupan untuk menghadapi dan menerima bagian – bagian keberadaan yang diingkarinya serta untuk berhubungan dengan pengalaman – pengalaman subjektif dengan kenyataan. Klien bisa menjadi suatu kesatuan dan menyeluruh. Apabila klien menjadi sadar , maka urusannya yang tidak selesai akan selalu muncul sehingga bisa ditangani dalam terapi.
Terapi Gestalt adalah lebih dari sekedar sekumpulan teknik atau permaina – permainan. Teknik – teknik dalam terapi Gestalt digunakan sesuai dengan gaya pribadi terapis.
Levitsky dan Pearls( 1970, hlm.144-149) menyajikan suatu uraian ringkasan tentang sejumlah permainan yang biasa digunakan dalam terapi Gestalt yang mencakup :
• Permainan Dialog
Terapis Gestalt menaruh pehatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi kepribadian. Yang paling utama adalah pemisah antara “top dg” dengan “under dog”. Top dog itu adil, otoriter, moralistic, menuntut, berlaku sebagai majikan,dan manipulative. Sedangkan underdog memanipulasi dengan memainkan peran sebagai korban, defensive, membela diri, tak berdaya, lemah dan ingin dimaklumi.dialvg antara dua kecenderungan yang berlawanan memiliki sasaran meningkatkan taraf integrasi polaritas – polaritas dan konflik – konflik yang ada pada diri seseorang ke taraf yang lebih tinggi. Dengan sasaran itu terapis tidak bermaksud memisahkan klien dari sifat – sifat tertentu, tetapi mendorong klien agar belajar menerima.
• Bermain Proyeksi
Dalam bermain proyeksi terapis meminta kepada klien yang mengatakan “saya tidak bisa mempercayaimu” untuk memainkan peran sebagai orang yang tidak bisa menaruh kepercayaan guna menyikapi sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik dalam dirinya. Dengan kata lain, terapis meminta klien untuk “mencobakan” pertanyaan – pertanyaan tertentu yang ditujukn kepada orang lain dalam kelompok.
• Teknik pembalikan
Ilustrasi dari teknik pembalikan ini adalah kasus seorang wanita yang diminta untuk menjadi seorang yang jahat. Terapis meminta kepada klien untuk berkeliling untuk mendatangi semua orang dalam kelompoknya dan memberikan kutukan, menunjukan niat jahat, dan mengatakan sesuatu yang ditakuti mereka. Dia menimbun kebencian dan dendam sebagai hasil dari sampingan represinya. Ketika ia didorong untuk mengungkapkan sisi buruknya yang belum pernah dilakukannya,hasilnya cukup dramatis. Klien secara intens merasakan sisi yang diingkarinya dan lambat laun dapat mengintegrasikan sisi tersebut ke dalam kepribadiannya.
• Permainan ulangan
Para anggota kelompok terapi melakukan permainan berbagi pengulangan satu sama lain dalam upaya meningkatkan kesadaran atas pengulangan yang dilakukan oleh mereka dalam memenuhi tuntutan memainkan peran – peran sosial. Mereka menjadi lebih sadar betapa mereka selalu mencoba memenuhi pengharapan – pengharapan orang lain, sadar seberapa besar derajat keinginan mereka untuk disetujui, diterima, dan disukai , serta sejauh mana mereka berusaha memperoleh penerimaan.
• Permainan melebih – lebihkan
Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas tanda – tanda dan isyarat – isyarat halus yang dikirimkan oleh seseorang melalui bahasa tubuh, gerakan –gerakan, sikap badan , mimic muka bisa mengkmunikasikan makna – makna yang penting, begitu pula isyarat – isyarat yang tidak lengkap. Klien diminta untuk melebih – lebihkan gerakan – gerakan atau mimic muka secara berulang – ulang yang biasanya mengintensifkan perasaan yang berpaut pada tingkah laku dan membuat makna bagian dalam menjadi lebih jelas.
• Tetap dengan perasaan
Teknik ini bisa digunakan pada saat klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang sangat ingin dia menghindarinya. Terapis mendesak klien untuk tetap dengan atau menahan perasaannya yang ia ingin hindari itu. Kebanyakan klien melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan – perasaan yang tidak menyenagkn. Terapis bisa meminta klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan apapun yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam perasaan dan tingkah laku yang ingin dihindarinya.

F. PENDEKATAN RATOINAL EMOTIF THERAPY (RET)
RET dikembangkan oleh seorang eksistensialis Albert Ellis pada tahun 1962. Sebagaimana diketahui aliran ini dilatarbelakangi oleh filsafat eksistensialisme yang berusaha memahami manusia sebagimana adanya.
RET menolak pandangan aliran psikoanalisis berpandangan bahwa peristiwa dan pengalaman individu menyebabkan terjadinya gangguan emosional. Meurut Ellis bukanlah pengalaman atau peristiwa eksternal yang menimbulkan emosiomnal, akan tetapi tergantung kepada pengertian yang diberikan terhadap peristiwa atau pengalaman itu. Gangguan emosi terjadi disebabkan pikiran – pikiran seseorang yang bersifatirrasional tehadap peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya.
RET bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah sikap , persepsi, cara berpikir, keyakinan, serta pandangan klien yang irrasional menjadi rasional sehingga ia dapat mengembangkan diri dan mencapai realisasi diri yang optimal. Menghilangkan gangguan emosional yang dapat merusak diri seperti : benci, takut, rasa bersalah, cemas, was – was, marah, sebagai akibat bepikir yang irrasional, dan melatih serta mendidik klien agar dapat menghadapi kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan diri, nilai – nilai, dan kemampuan diri
Berikut ini adalah beberapa teknik konseling RET dapat diikuti, antara lain adalah teknik yang berusaha menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri yang terdiri atas :
• Assertive training. Yaitu melatih dan membiasakan klien terus menerus menyesuaikan diri dengan perilaku tertentu yang diinginkan.
• Sosiodrama. Yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan sosial.
• Self modeling. Yaitu teknik yang bertujuan menghilangkan perilaku tertentu, dimana konselor menjadi model, dank lien berjanji akan mengikuti.
• Social modeling. Yaitu membentuk perilaku baru melalui model sosial dengan cara imitasi, observasi
• Teknik reinforcement. Yaitu memberi reward terhadap perilaku rasional atau memperkuatnya
• Desensitisasi sistematik
• Relaxation
• Self control. Yaitu dengan mengontrol diri
• Diskusi
• Simulasi, dengan bermain peran atara konselor dengan klien
• Homework assignment
• Bibliografi

G. PENDEKATAN REALITAS
Pendiri terapi Realitas adalah William Glaser. Terapi Realitas adalah bentuk pengubahan perilaku karena dalam penerapan institusionalnya, merupakan tipe pengondisisan operan yang tidak ketat.
Menurut terapi ini, akan sangat berguna bila menganggap identitas dalam pengertian “identitas keberhasilan” lawan “identitas kegagalan”. Dengan kata lain orang membutuhkan identitas dan mampu mengembangkan “identitas keberhasilan” maupun “identitas kegagalan”. Terapi realitas berlandaskan motivasi pertumbuhan dan antideterministik.
Tujuan umum konseling realitas adalah membimbing konseli kearah mempelajari perilaku yang realities dan bertanggung jawab serta mengembangkan “identitas keberhasilan”. Konselor berkewajiban membantu konseli dalam membuat pertimbangan – pertimbangan nilai tentang perilakunya sendiri dan dalam merencanakan tindakan bagi perubahan.
Tugas utama konselor dalam konseling ini adalah melibatkan diri dengan konseli dan mendorong konseli untuk menghadapi kenyataan dan untuk membuat pertimbangan nilai mengenai perilakunya sekarang. Setelah konseli menetapkan prubahan – perubahan spesifik yang dinginkannya, rencana – rencana dibuat, dan hasilnya dievaluasi.
Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, terapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut :
• Terlibat dalam permaina peran dengan klien
• Menggunakan humor
• Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun
• Membantu klien dalam merumuskan rencana – rencana yang spesifik bagi tindakan
• Bertindak sebagai model dan guru
• Memasang batas – batas dan menyusun situasi terapi
• Melibatkan diri dengan klien dalam upaya mencari kehidupan yang lebih efektif.
Terapi realitas tidak memasukan sejumlah teknik yang secara umum diterima oleh pendekatan – pendekatan terapi lain. Teknik – teknik diagnostic tidak menjadi bagian dari terapi realitas sebab diagnostic dianggap membuang waktu, merusak klien dengan menyematkan label pada klien yang cenderung mengekalkan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan gagal. Teknik lain yang tidak digunakan adalah penafsiran, pemahaman, wawancara nondirektif, asosiasi bebas,analisis transferensi dan resistensi, dan analisis mimpi.

H. PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL
Pendekatan ini dikembangkan Oleh Eric Berne, berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis structural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak.
Analisis Transaksional adalah psikoterapu transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam konseling kelompok.
AT memekankan aspek –aspek kognitif rasional behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga konseli akan mampu membuat putusan – putusan baru dan mengubah cara hidupnya.
Tujuan dasar AT adalah membantu klien dalam membuat putusan – putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan –putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh permainan yang manipulative dan oleh scenario – scenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai dengan kesadaran, spontanitas, dan keakraban.
Sebagian besar metode dan proses – proses, prosedur – prosedur, dan teknik – teknik yang umum digunakan dalam praktek Analisis Transaksional. Sebagian besar metode dan proses terapeutik AT bisa diterapkan ada terapi individual maupun pada terapi kelompok.
• Analisis Struktural
Analisis structural adalah alat yang bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anaknya. Para klien AT belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan egonya itu. Analisis structural membantu klien dalam megubah pola – pola yang dirasakan menghambat dan membantu klien agar menemukan perwakilan ego yang mana yang menjadi landasan tingkah yang mana menjadi landasan tingkah lakunya. Dengan penemuannya, klien bisa memperhitungkan pilihan-pilihannya.dua tipe masalah yang berkaitan dengan struktur kepribadian bisa diselidiki melalui analisis structural : pencemaran dan penyisihan. Pencemaran terjadi apabila isis perwakilan ego yang satu bercampur dengan isi perwakilan ego yang lainnya.
Penyisihan terdapat ketika ego anak yang tersisih bisa merintangi ego orang tua atau apabila ego orang tua yang tersisih merintangi ego anak, yakni apabila garis – garis batas ego yang kaku tidak memungkinkan gerakan bebas. Ego orang tua yang konstan menyisihkan ego orang dewasa dewasa, dan ego anak. Orang semacam ini bisa bersifat menghakimi, moralis, dan menuntut terhadap orang lain,bertindak dengan cara mendominasi dan otoriter. Ego anak yang konstan menyisihkan ego orang dewasa dan ego orang tua. Orang ini terusmenerus bersifat kekanak – kanakan. Ego orang dewasa yang konstan menyisihkan ego orang tua dan ego anak menjadikan individu ini kurang menunjukan perasaan dan kurang spontan.
• Permainan peran
Dalam terapi kelompok, situasi-situasi permainan peran bisa melibatkan para anggta lain. Seorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalahbbagi anggota lainnya. Bentuk permainan lainnya adalah permainan yang menonjolkan gaya-gaya khas dari ego orang tua yang konstan, ego orang dewasa yang konstan, dan ego anak yang konstan, atau permainan- permainan tertentu agar memungkinkan klien memperoleh umpan balik tentang tingkah laku sekarang dalam kelompok
• Percontohan keluarga
Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan sebanyak mungkin orang yang berpengaruh dimasa lampau, termasuk dirinya sendiri. Dia menetapkan situasi dan menggunakan para anggota kelompok sebagai pemeran para anggota keluarga yang dibayangkannya. Diskusi, tindakan, dan evaluasi selanjutnya bisa mempertinggi kesadran tentang suatu situasi yang spesifik dan makna-makna pribadi yang berlaku pada klien.
• Analisis scenario
Pembuatan scenario mula-mula terjadi secara nonverbal pada masa kanak-kanak melalui pesan-pesan dari orang tua. Selama tahun-tahun pertama perkembangannya, seseorang belajar tentang nilai dirinya sebagai pribadi dan tempat dirinya dalam kehidupan. Selanjutnya, pembentukan skenario berjalan melalui cara-cara langsung maupun tidak langsung.
Analisis skenario bisa dilaksanakan dengan menggunakan suatu daftar scenario berisi item-item yang berkaitan dengan posisi-posisi hidup, penipuan-penipuan, permainan-permainan yang semuanya merupakan komponen-komponen fungsional utama pada scenario kehidupan individu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: